Tugas matkul Kewarganegaraan

PENGANTAR
Pada zaman yang mulai memasuki generasi platinum ini, mahasiswa kian dituntut untuk menjadi yang terdepan dan membawa perubahan. Sudah banyak fasilitas yang mendukung untuk mempermudah pengayaan perubahan, hanya tinggal bagaimana mahasiswa tersebut mampu mengolah fasilitas menjadi suatu pendukung yang kuat. Namun lagi-lagi mahasiswa sering lalai dalam pengolahan fasilitas untuk mencapai perubahan, salah satunya adalah faktor prokrastinasi (penundaan).

Prokrastinasi adalah kecenderungan untuk menunda dalam memuali, melaksanakan dan mengakhiri suatu aktivitas. Prokastinasi akademik adalah prokrastinasi yang terjadi di lingkungan akademik. Ellis & Knaus (1977) menemukan bahwa hampir 70% mahasiswa melakukan prokrastinasi dalam makna luas. (Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 2, Desember2006 oleh Rumiani). Dalam hal ini, prokrastinasi akademik mampu menjadikan mahasiswa menunda-nunda tugas yang diberikan sehingga berpengaruh terhadap masa kuliahnya.

Istilah Prokrastinasi ini pertama kali dicetuskan oleh Brown&Holtzman pada tahun 1967 (Ferrari,dkk, 1995). Istilah ini berakar dari bahasa latin โ€œprocrastinareโ€ yang berarti menunda sampai hari selanjutnya. Milgram (1991) menyebutkan bahwa prokrastinasi dilakukan semata-mata untuk melengkapi tugas secara optimal. Namun, penundaan itu tidak membuat tugas lebih baik, hal itu mengarah pada penundaan yang tidak berguna. (Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 2, Desember2006 oleh Rumiani).

ย 
PERMASALAHAN UTAMA
Prokrastinasi menjadikan mahasiswa menunda tugasnya dan berpengaruh terhadap pencapaian prestasinya. Prokrastinasi akademik bukan hanya menjadikan mahasiswa menjadi semakin rendah motivasi belajarnya saja namun berpengaruh terhadap masa kuliah yang dihadapi.

Solomon & Rothblum (1984) menyatakan terdapat enam area akademik yaitu tugas mengarang (membuat paper), belajar dalam menghadapi ujian, membaca buku penunjang, tugas-tugas administratif penunjang proses beajar, menghadiri pertemuan dan kinerja akademik secara keseluruhan. (Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 2, Desember2006 oleh Rumiani)

Faktor terjadinya prokrastinasi akademik dikalangan mahasiswa ialah adanya waktu pengerjaan tugas yang terlalu lama, rendahnya motivasi berprestasi, adanya pekerjaan lain yang lebih menyenangkan, rendahnya kontrol diri, serta rendahnya penghargaan yang diberikan. Beberapa faktor tersebut bisa terjadi dalam satu waktu dan menyebabkan prokrastinasi akademik yang semakin tinggi.

PEMBAHASAN
Beberapa faktor terkait dalam permasalahan prokrastinasi akademik sebenarnya mampu diatasi. Misalnya untuk faktor pemberian waktu (deadline) yang terlalu lama yang biasanya diberikan oleh dosen terkait, maka mahasiswa dapat merubahnya menjadi keadaan yang mendesak, misalnya memberikan deadline lebih awal dari deadline yang berikan. Dengan pemberian deadline yang lebih awal akan mampu memaksa mahasiwa untuk tidak melakukan prokrastinasi akademik yang efeknya berkepanjangan.

Motivasi berprestasi menjadikan seseorang mampu mengejar impiannya. Dengan kata lain, jika motivasi berprestasi itu tinggi maka akan semakin memacu mahasiwa untuk mendapatkan prestasi yang di inginkan. Untuk menjadika mahasiswa memiliki motivasi yang tinggi, perlunya diberikan reward and punishment. Sehingga jika mahasiswa melakukan prokrastinasi maka akan berpengaruh terhadap apa yang akan diterimanya nanti.

Faktor mengenai adanya pekerjaan lain yang lebih menyenangkan bisa timbul akibat mahasiswa lebih senang berperan aktif di lingkungan kampus atau diluar kampusnya. Misalnya ikut serta dalam organisasi kampus sehingga mereka melakukan prokrastinasi akademik. Mahasiswa dituntut harus berperan aktif bukan hanya di lingkungan organisasi saja, namun harus mampu ikut berperan aktif dalam lingkungan akademik.

Selain pada beberapa faktor tersebut, adanya faktor kontrol diri yang rendah menyebabkan prokrastinasi akademik di kalangan mahasiswa semakin tinggi. Calhoun dan Acocella (1990) mendefinisikan kontrol diri (self-control) sebagai pengaturan proses-proses fisik, psikologis, dan perilaku seeorang dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk dirinya sendiri. Goldfried dan Merbaum (dalam lazarus, 1976), mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif. Kontrol diri juga menggambarkan keputusan individu yang melalui pertimbangan kognitif untuk menyatukan perilaku yang telah disusun untuk meningkatkan hasil dan tujuan tertentu seperti yang diinginkan (Lazarus, 1976). (http://www.damandiri.or.id/file/mnurgufronugmbab2.pdf)

Rendahnya kontrol diri seseorang menjadikan seseorang cenderung melakukan prokrastikasi akademik, sehingga untuk meningkatkan kontrol diri pada mahasiswa adalah dengan cara memberikan bimbingan yang jelas baik dari dosen maupun dari mahasiswa yang lain untuk turut ikut berperan dalam keaktifan kuliah.

Faktor selanjutnya adalah rendahnya penghargaan yang bisa disebabkan oleh rendahnya reward dan punishment yang diberikan. Sehingga membuat mahasiswa tidak memilki motivasi yang baik. Pemberian penghargaan sekali-kali perlu diberikan untuk meningkatkan motivasi yang rendah yang bisa berujung pada prokrastinasi akademik.

DAFTAR PUSTAKA
Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol.3 No. 2, Desember2006 oleh Rumiani
http://www.damandiri.or.id/file/mnurgufronugmbab2.pdf