Tag

, , , , ,

Puncak mahameru merupakan salah satu puncak yang belakangan sangat ramai dikunjungi para pendaki. Memang tampak jelas perbedaan jumlah pendaki yang datang di tahun 2015 dengan pendaki di tahun-tahun sebelumnya.
Saya ingin sedikit bercerita pengalaman saya mendaki puncak mahameru, mengingat baru-baru saja saya mendengar ada korban yang jatuh tertimpa batu di dekat puncak mahameru atas nama Dania Agustina Rahman (19).
Berdasarkan informasi korban meninggal tertimpa batu dengan diameter 80cm dan korban mengalami cedera pada bahu dan belakang telinga. Setelah mendengar kabar tersebut saya langsung teringat dengan pengalaman saya mendaki puncak 23 juli 2015 lalu. Saya bersama kesebelas teman saya mulai summit attack pada pukul 01.00 malam dengan start point pos kalimati. Saat itu banyak sekali pendaki yang sudah start terlebih dahulu mulai dari jam 11 malam. Dengan menggunakan jalur baru (jalur yang dibuat tahun 2013 karena jalur lama rusak) pendakian menuju batas vegetasi relatif lebih singkat namun lebih curam dibandingkan jalur lama.
Sekitar 45menit tracking, akhirnya kami sampai di batas vegetasi, dan saya sangat terjekut melihat antrian pendaki begitu panjang menuju puncak. Hal ini tampak dengan banyaknya lampu headlamp sepanjang jalur.
Pasir semeru merupakan pasir labil. Ketika kita menginjaknya, secara otomatis terjadi guguran kecil dari pijakan tersebut. Saya langsung teringat betapa sulitnya dulu saya muncak dengan kondisi pasir seperti ini. Di tengah perjalanan saya hampir menyerah karena jenuh mengantri (pegal menunggu pendaki lain maju, sedangkan pijakan terus turun) saya pun sempat berpikir “ah udah muncak ini dulu” sampai akhirnya saya bertemu porter dan diajari cara berjalan zigzag, memang terhitung relatif lebih panjang dan lama, tapi sangat membantu menghemat energi dan kejenuhan. Saya pun kembali bersemangat karena merasa menemukan track baru.
Disela-sela tracking pasir semeru, tidak sedikit pendaki di atas saya yang berteriak “awas batuuuu kanan / kiri” maksudnya terjadi guguran batu dikarenakan pijakan-pijakan yang labil kemudian longsor dan mengenai pendaki di bawahnya.
Hal itu masih saya anggap “biasa” karena sebelumnya saya pernah mengalami hal seperti ini. Itulah salah satu bahaya mendaki puncak mahameru. Tidak ada yang bisa memastikan kapan dan dimana guguran batu itu terjadi selain dari pijakan pendaki. Sampai akhirnya sekitar pukul 05.30 pagi saya masih tertahan di lereng bersama salah satu teman saya. Kami tertahan bukan karena fisik kami yang lelah, melainkan antrian pendaki lain yang tidak juga melangkah dan banyak pendaki yang beristirahat bahkan tidur di jalur dan menghalangi pendaki lain yang ingin lewat.
Diantara kejenuhan karena track semakin jelas terkena sinar matahari, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat besar. Seketika seluruh pendaki dari atas sontak berteriak “AWAS BATU KIRI !!!” Saya mencari-cari guguran batu tersebut dengan melihat ke atas dan bersiap-siap untuk menghindar. Tak disangka, batu berdiameter lebih panjang dari tinggi orang dewasa, kotak namun hampir bulat tengah menggelinding dari atas membawa gumpalan debu *nyaris tidak terlihat* di jalur kiri (jalur turun puncak) atau persis di sekitar 3meter disamping kiri saya. Seketika seluruh pendaki melihat ke arah batu tersebut menggelinding, dan sangat dikhawatirkan batu tersebut mengenai para pendaki karena batu tersebut melewati jalur puncak.
Saya hanya bisa terdiam, kemudian merasakan syok dan sesak. Merasakan kemungkinan kematian dan kecelakaan yang tidak bisa diprediksi. Betapa rapuhnya pasir di semeru untuk menopang bebatuan yang sangat besar. Pendakian sempat dihentikan kurang lebih 30menit, karena biasanya satu guguran bisa memicu guguran yang lain.
Berdasarkan informasi dari teman saya yang berada persis di sumber guguran batu, terdapat satu korban yang tergilas batu tersebut, dan sangat beruntung sekali korban tersebut selamat dan hidup, namun mengalami luka-luka. Korban tersebut lansung dievakuasi turun dibantu teman-temannya.
Berat kaki melangkah ke puncak setelah melihat kejadian tersebut, namun diam di jalur pun bukan pilihan yang baik karena bisa saja terjadi guguran-guguran lain.
Bergegas saya melangkah kembali dengan perasaan penuh syukur karena merasa Allah dekat melindungi saya. Merasa diri ini tidak berdaya melawan kekuasaan alam. Terus melangkah mengucap istigfar, dan merefleksi diri. Berfikir semoga tidak ada pendaki yang terluka di bawah. Kuatnya hantaman batu bisa saja meremukan badan manusia.
Sambil terus bersabar menunggu antrian menuju puncak saya terus waspada, bahkan guguran batu kecil pun selalu membuat saya syok dan trauma.
Pukul 08.00 pagi alhamdullilah akhirnya saya bisa muncak lagi untuk yang kedua kalinya. Tetesan air mata pun mengalir kala bertemu teman-teman saya yang lebih dulu sampai, ada perasaan haru,sedih,syok,sesak,dan bahagia bertemu mereka. Tapi tujuan saya saat itu bukan lagi puncak, melainkan pulang dengan selamat.

Jalur Turun
Setelah puas berada di puncak, saya dan teman-teman saya pun turun. Tracking turun jauh lebih cepat berkali-kali lipat. Hanya membutuhkan waktu 30menit-40menit saja untuk sampai di batas vegetasi. Bahkan ada yang turun hanya dalam waktu 15menit.
Tracking turun pun tetap perlu diwaspadai. Tidak sedikit guguran batu yang juga berjatuhan. Tetap usahakan fokus, karena jam-jam turun dari puncak banyak pendaki yang mengantuk bahkan tidur di jalur.
CATATAN : JANGAN PERNAH TIDUR DI JALUR PENDAKIAN. Kecuali jika benar-benar tidak sanggup, silahkan cari dan pilihlah tempat istirahat yang AMAN. Cari di sela-sela batu yang memungkinkan bisa menghalangi anda dari guguran-guguran batu.
Perhatikan juga langkah anda, jangan sampai terperosok ke jurang karena keasikan berlari. Selalu ada kemungkinan kecelakaan dan tetap jaga konsentrasi.
Panas matahari akan semakin menyengat jika anda turun puncak diatas jam 9. Perhatikan perbekalan anda, jangan sampai anda dehidrasi parah.

Sekian yang bisa saya share tentang pengalaman saya mendaki semeru. Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan anda bisa hubungi saya di halaman “FIND ME” ..

Tetap utamakan SAFETY, agar pendakian ada tetap FUN !

image

image

image

image