Aku pernah terduduk dalam suatu tempat yang ditunjukan seseorang

Kursi hijau dengan lantai berkayu. Dinding kaca dihadapanku membiarkan matahari senja berjalan menyinariku sore itu

Aku membuka kaca mata dan walau samar tapi aku bisa langsung melihat rindang pepohonan serta merasakan angin menerpa dari sisi kanan aku duduk.

Aku melihat ranting-ranting menari dalam kekaburan mataku. Seperti kumpulan warna hijau dengan titik putih yang berasal dari langit, masuk melalui celah dedaunan yang saling bertumpukan.

Beberapa daun kuning gugur terbawa angin, mendarat di kursi tempatku termenung mengingat pembicaraan 2 jam sebelumnya

Pembicaraan tentang bagaimana kita semua akan dihadapkan pada takdir masing-masing

Pertemuan dan perpisahan ibarat awan yang kulihat sore itu. Dia hadir tampak mata dan raganya, tapi seiring berjalan waktu dia tergeser angin, dan menghilang.

Tersenyum aku mengingat pembicaraan itu, membawaku berimajinasi tentang uniknya setiap orang. karena begitulah manusia.

Kelak kami akan menemukan jalan masing-masing, mengikuti panggilan jiwa.

Kemana pun aku, kamu, kalian melangkah, berjanjilah kelak kita akan bertemu kembali di tempat yang sama.

-npu