Dear wanita super.
Terkadang aku merasa keromantisan kota jogja memudar saat aku sadari tidak ada lagi bayang-bayang kecerianmu di hari-hariku.
Pernah kau kata setiap sudutnya mengingatkan bahwa kita pernah bersama dalam satu rangkulan hangat tetapi berubah karena keadaan.

Terkadang aku merindumu dalam doa pilu berharap kau kembali menjadi sosok menyenangkan seperti dulu.
Karena lekuk senyummu bisa mengibaskan kerisauan kala aku sedang sendirian, candamu ampuh menjadi obat saat hatiku lebam krn pukulan keadaan.
Waktu berlalu, krn pilihanmu kau memudar dengan sendirinya, sulit ku lukis kembali apa yg sudah pernah kita gambar bersama. Kemurkaan yg kita rasakan terkubur dalam diam. Seperti air yg menyerap masuk ke bumi. Seperti diamku dan diammu saat ini.

Apa yang menjadi andalan saat hati terluka karena sikapmu, hanyalah sepotong kebaikan yg pernah kau gores dalam dimasa kita berjaya dulu.
Mungkin terlihat semua mulai terpecah menjauh, tapi itu adalah hasil dari pikiran kita masing-masing yang mempresepsikan bahwa tiada lagi jalan untuk bisa berdampingan.

Kau bersembunyi di balik pintu, dan aku pun melewatinya.
Sekeras apapun kita saling menyalahkan, siapa yang harus mengetuk atau membuka pintu terlebih dahulu, maka salahkanlah diri kita sendiri yg tidak mau memulai.

Mengapa kita begitu terluka saat melewatinya, itu karena kenangan yang kita miliki didalam kepala ini, lebih banyak dari yang kita sadari.
Kita tidak akan pernah mampu menghapus setiap rangkaian, karena kita tau ada tempat tersendiri yg kita sisakan untuk ini.

—-edisi spesial, kerinduan dr hati dan pikiran untuk sekumpulan orang terkasih yg tak mampu terucap dan terungkap.