Bahan evaluasi yang sangat berharga adalah mengetahui persepsi orang lain tentang diri secara langsung. Tidak ada pihak ketiga, keempat, apalagi simpulan publik yang sudah tercemari berbagai persepsi yang saling diterjemahkan.

Evaluasi yang membangun memang hanya bisa didapatkan dari pemikiran yang baik walau cara orang lain menyampaikan bisa berbeda-beda. Sebuah catatan menarik yang telah didapat kala berbicara dengan banyak orang dengan kepribadian yang berbeda-beda. Mungkin terkadang tidak menyadari apakah kita sepayah atau sebaik yang orang pikirkan, itu semua hanya bisa diketahui jika mereka berani mengungkapkan apa yang ada di pikirannya dan tampak perilakuknya.

Berbagai feedback dilontarkan bukan untuk menghancurkan, melainkan sebagai bahan kajian diri apakah yang kita niatkan, tercermin sempurna dalam perilaku, dan apakah perilaku yang dimunculkan menghasilkan dampak sesuai dengan apa yang diinginkan. Misalnya, saat kepala berpikir untuk membuat mudah segala situasi yang sedang dihadapi, atau berpikir dengan cara praktis agar tidak berlarut-larut, terkadang perilaku yang muncul malah sikap seperti meremehkan. Atau saat candaan yang tidak di dukung dengan ekspresi, malah memunculkan presepsi lain dibenak penerima.

Kedua contoh hal tersebut adalah sebuah ketidaktepatan penerjemahan dari pikiran pada perilaku. Cara memperbaikinya adalah terus belajar menjadi senyata mungkin. Betul saja jika ada pribahasa “belajar sampai kubur” karena sepanjang kehidupan seseorang merupakan sebuah proses belajar. Tidak ada batasan usia, kematangan, jabatan, atau pengalaman. Belajar adalah satu hal mutlak yang harus dilakukan seseorang sepanjang hidupnya, karena tidak ada kebaikan yang sempurna, dan yang selalu kita lakukan hanyalah “mendekati”nya.

-NPU