Tag

, , , , , , , , , , , , ,

Oleh : Nindia P.U

Kali ini saya akan berbagi catatan perjalanan berserta budget yang dikeluarkan untuk menapaki pulau dan titik terujung Indonesia.

DCIM104GOPROGOPR6676.

Sabang-Pulau Weh

Perjalanan menuju sabang – pulau Weh dimulai dengan terbang dari Bandung menuju Banda Aceh. Saya menggunakan pesawat “singa merah” dengan sekali transit di bandara Kualanamu, Medan. Sekitar pukul 5 sore saya tiba di Banda Aceh dan di jemput oleh sahabat saya, Irin Riamanda. Perjalan menuju Pulau Weh dimulai esok harinya.

Dari Banda Aceh kami berangkat menuju pelabuhan Ulee Lheule diantar dengan menggunakan kendaraan pribadi sekitar 10 menit dari rumah sahabat saya. Bagi wisatawan yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, dapat menggunakan becak motor atau taxi yang tersedia di bandara.

Jpeg

Jpeg

Sampai di pelabuhan kami bergegas menuju loket kapal. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan kapal express maupun kapal ferry. Harga tiket yang ditawarkan pun cukup bervariasi. Demi menghemat waktu kami memutuskan untuk menggunakan kapal express kelas exekutif seharga 80k. Waktu perjalanan ditempuh selama 45 menit. Jika wisatawan ingin lebih berhemat, pelabuhan menyediakan kapal ferry dengan kisaran harga 25k – 30k dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Setelah menempuh 45 menit perjalanan lau, kami tiba di pelabuhan balohan. Pelabuhan ini dinamai pelabuhan bebas karena lokasi pelabuhan yang cukup strategis dari sisi perdagangan luar Indonesia.

DCIM104GOPROGOPR6851.

Pelabuhan Ulee Lheule

Sebelumnya kami mencari info mengenai kendaraan yang bisa kami sewa. Saat turun dari kapal, cukup banyak orang yang menawari kami sewaan kendaraan. Mobil seharga 400k/hari dan motor seharga 100k/hari. Karena saya datang hanya dengan satu sahabat saya, maka kami memutuskan untuk menyewa motor. (Sabang, Pulau Weh ini bukanlah pulau yang besar, sehingga dapat dikelilingi dengan menggunakan sepeda motor). Setelah kami mendapatkan sewaan motor, kami bergegas menuju penginapan yang sebelumnya sudah kami survey melalui internet. Kisaran penginapan yang ada di Sabang ini cukup bervariasi. Berkisar antara 150k – 450k/malam. Tetapi rata-rata penginapan yang tersedia berkisar 300k/malam (harga bisa naik jika weekend). Lokasi penginapan pun cukup bervariasi, tergantung kenyamanan pengunjung.

FYI, lokasi penginapan berada di kota sabang (terbagi menjadi kota atas dan kota bawah), kemudian daerah sumur tiga (penginapan yang dibangun di tebing-tebing dan berbatasan langsung dengan pantai), lalu ada juga di daerah Iboih & Gapang (berbatasan langsung dengan tempat snokling), serta losmen yang ada di pelabuhan.

DCIM104GOPROGOPR6738.

Penginapan di Sumur Tiga

Kami memilih penginapan di Kota Sabang dengan harga 250k/malam agar kami lebih mudah mencari makanan dan souvenir lainnya. Kami menginap di “Rumah Husaini”(rumah yang di dalamnya terdapat kamar-kamar), lebih mirip rumah dengan banyak kamar yang disewakan. Fasilitas yang kami dapatkan adalah springbed untuk 2 orang, kamar mandi dalam, dan AC.

Tidak perlu khawatir tersesat, warga sabang sangat hangat dan ramah kepada pengunjung bahkan tidak jarang saat kami bertanya jalan, kami malah diantar ke tempat tujuan kami.

Setelah menurunkan barang di penginapan, kami langsung bergerak menuju Iboih untuk snorkling. Jarak antara kota dengan Iboih sekitar 22km. Sedangkan jika kami ingin pergi ke titik kilometer 0 Indonesia dapat ditempuh sekitar 30km. Kami melaju dengan menggunakan motor dan mendapati jalan yang berliku-liku, naik turun bukit, sesekali melewati hutan dan bertemu pasukan monyet di pinggir jalan. Jangan lupa mampir foto di sela-sela perjalanan.

Jpeg

view dari bukit

Setelah 30 menit kami melaju dari kota, akhirnya kami sampai di Iboih dan cukup unik karena di depan gerbang Iboih kami mendapati tulisan “dilarang memakai bikini” atau pakaian yang minim. Pakaian yang digunakan harus sopan. (mungkin karena sabang ini masuk di bagian Aceh, sehingga banyak nilai-nilai agamis yang diterapkan bahkan di pantai sekalipun).

DCIM103GOPROGOPR6030.

Larangan memakai baju minim

Sesampainya di Iboih kami langsung ditawari untuk snorkling. Sudah ada paket snorkling yang tersedia diantaranya Perahu kecil penyebrangan (100k), pemandu (130k), alat snorkling (40k), umpan ikan 1 plastik (5k), dan uniknya di sabang ini menyediakan sertifikat “telah berada di sabang” seharga 25k. Harga tersebut merupakan harga NON-WEEKEND.

Setelah kami menyetujui harganya, kemudian kami diantar menggunakan kapal kecil ke pulau Rubiah. Pemandu menunjukan spot-spot yang bagus untuk bisa diselami. Kami juga ditunjukan tempat-tempat konservasi terumbu karang. Cukup unik ketika melihat ke dasar lautnya, karena media yang digunakan untuk penumbuh karang adalah barang-barang yang tak lazim. Seperti rangka sepeda motor, meja, kursi, toilet, ayunan, dan masih banyak lagi yang ditanam di dasar laut.

Setelah puas kami berkeliling pulau dan snorkling, masih dengan pakaian yang basah akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Titik 0 Kilometer Indonesia bagian barat yang sangat terkenal disana. Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan motor. Bea masuk sebesar 5k untuk parkir.

Sesampainya di titik 0, kami melihat ada sebuah menara pandang yang masih di bangun, sehingga kami hanya bisa menikmati sun set di ujung Indonesia dengan duduk di pagar pembatas. Saya menemukan satu sudut pandang baru (lagi) saat melihat matahari. Indonesia itu begitu Indah #kayak soundtrack PADI –begitu indah.

Jpeg

Sunset ujung Indonesia

DCIM104GOPROGOPR6573.

Titik 0 Kilometer

DCIM104GOPROGOPR6576.DCIM104GOPROGOPR6584.

Selesai menikmati sore bahagia, saya kembali pulang dengan menyusuri jalanan yang sangat gelap. Beruntung saya ditemani dengan wisatawan lain yang juga membawa motor dan hendak pulang. Sesampainya di kota kami tidak langsung pergi ke penginapan. Kami mampir ke spot kuliner dan membeli makanan yang khas disana yaitu Sate Gurita. It’s very delicious.

DCIM104GOPROGOPR6673.

Gerobak Sate Gurita di Taman Kuliner

Petualangan di lanjutkan esok harinya.

Pagi menyilaukan mata. Cahaya masuk lewat kaca jendela kamar. Masih di kota yang sama, saya melihat pagi ini ada yang sedikit berbeda. Kemarin saya kepanasan, sekarang saya lihat ada rintik hujan dan sempat membuat saya sedikit cemas. Jadwal keliling hari ini bukan lagi basah-basahan melainkan belanja souvenir, dan menyambangi spot-spot terkenal yang ada disana.

Seharian puas kami mengelilingi satu Pulau Weh, Sabang. Sangat menyenangkan karena kami bisa dengan gesit berpergian menggunakan motor. Kami bisa dengan mudah menemukan lokasi karena bantuan GPS. Sinya yang ada disana juga cukup kuat sehingga tidak perlu khawatir tersasar. Kami mengunjungi tempat-tempat yang cukup terkenal disana, seperti Goa Jepang, Pantai Sumur Tiga, Panorama Tebing, makan mie sedap, dan banyak lainnya.

Jpeg

Jpeg

DCIM104GOPROGOPR6814.

Ketika kami terhanyut mengelilingi pulau dan mampir di banyak pantai, kami hampir lupa untuk memesan tiket pulang. Akhirnya kami meminta bantuan pemiliki motor yang kami sewa untuk memesan tiket pulang. Karena sudah tidak diburu waktu, maka kami putuskan untuk naik kapal ferry dan menikmati sore di atas kapal.

Sampai di Banda, jangan lupa buat sempetin jalan-jalan ke Museum Tsunami, Beli kopi Aceh, makan mie aceh, dan mampir ke masjid terbesar kedua di Indonesia.

Jpeg

Sertifikat Wisata